Inilah Kesalahan Umum Orang Tua Dalam Mendidik Anak
Inilah kesalahan umum orang tua dalam mendidik anak. Anak adalah pelengkap hidup yang menjadi suatu kebanggaan dan kebahagiaan bagi orang tua yang memiliki anak. Sebagai orang tua tentu kita harus menjalankan tugas dan tanggung jawab yang tidak mudah dalam mendidik anak
Tanggung jawab orang tua membesarkan anak memang sangat besar. Dalam masa pertumbuhannya, anak membentuk kepribadian, kebiasaan, dan nilai-nilai yang ia anut. Semua orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk anak. Namun dalam perjalanannya seringkali orang tua terjebak dalam kesalahan-kesalahan yang tidak mereka sadari ketika mendidik anak
Seperti inilah kesalahan umum orang tua dalam mendidik anak
1. Ceramah bukan diskusi
Secara psikologis, anak-anak lebih mudah mencerna jika diajak berdiskusi daripada diberi ceramah panjang lebar, hal itu tidak akan tertangkap oleh pikiran anak. Anak-anak senang diperlakukan seperti orang dewasa ketika mereka sedang bertumbuh kembang. Mereka tidak terlalu suka diatur dan dinasihati terlalu sering.
Metode berdiskusi justru bisa membuat anak percaya diri karena dipercaya untuk mengungkapkan pendapat, dan ia akan menganggap Anda sebagai orang tua sekaligus teman yang bisa diajak berdiskusi. Selain itu, orang tua juga bisa lebih memahami sisi pandang anak. Siapa tahu, pendapat dari anak tersebut bisa membuka wawasan baru orang tua tentang suatu isu. Apalagi tentang isu-isu yang cepat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
2. Meremehkan
Saking sibuknya, kadang orang tua sering meremehkan atau menyepelekan perubahan perilaku dari anak. Ketika anak bertumbuh kembang, melihat banyak hal, mempelajari berbagai pengalaman hidup, pelan-pelan kepribadian mereka ikut berubah. Mereka mulai bisa memilih menjadi pribadi seperti apa yang mereka inginkan.
Jangan pernah menyepelekan perubahan sekecil apapun pada anak. Usahakan untuk tetap memiliki waktu bertukar cerita dengang anak Anda. Ketahui apa yang sedang ia inginkan atau ia suka dan perkemabangan anak. Tanyakan juga kabar teman sekolah atau teman bermainnya. Berikan perhatian terhadap kegiatannya dan diskusikan lebih jauh tentang hal-hal yang menganggu Anda. Dengan mengenali tanda-tanda perubahan lebih awal, Anda bisa mencegah terjadinya hal-hal buruk pada anak Anda di masa datang.
3. Peraturan dan Batasan
Hal paling umum yang dilakukan orang tua saat mendidik anak adalah mengatur dan memberi batasan. Persepsi umum terhadap hal ini adalah jika anak melanggar peraturan atau batasan maka anak akan diberi hukuman. Hukuman tersebut akan membuatnya belajar tentang kedisiplinan.
Persepsi tersebut tak sepenuhnya salah tapi juga belum tentu baik buat anak. Daripada sekadar mengatur dan memberi batasan, Anda bisa memberi pengertian tentang situasi yang dimaksud dan memberi tahu efek baik dan buruknya kepada anak. Dengan begitu, anak bisa belajar mengenali mana hal yang baik dan mana yang buruk dengan sendirinya. Jika demikian, maka Anda tak perlu selalu repot dan keras tentang memberikan peraturan karena ia sudah bisa menilai sendiri mana hal yang baik dan buruk.
4. Cita-cita yang Tak Masuk Akal
Banyak orang tua yang membebankan cita-cita pribadinya pada sang anak. Ada juga yang merasa tak mau kalah saing dengan anak tetangga atau saudara sehingga membebankan bahkan memaksakan cita-cita yang Anda pilih untuk anak. Membebankan cita-cita yang tidak masuk akal bisa membuat anak tertekan. Anak menjadi frustrasi dan bisa berpengaruh buruk terhadap perkembangannya.
Sebaiknya, pelan-pelan kenali bakat dan potensi anak. Amati kegiatannya sehari-hari atau konsultasikan dengan ahli psikologi. Dengan mengetahui bakat dan minat anak, Anda bisa mengukur potensi yang dimiliki dan merencanakan tujuan yang realistis dan membuat anak bersemangat. Dengan mengembangkan potensi dan bakatnya, anak juga akan merasa lebih percaya diri dan menambah semangat anak atas dukungan Anda.
5. Selalu menekankan pada kesalahan
Banyak orang tua yang senang menegur keras anak ketika berbuat salah. Hal ini dilakukan dengan harapan anak akan berubah dan tidak mengulangi kesalahannya. Hal tersebut belum tentu sepenuhnya akan berhasil, umumnya anak-anak justru akan semakin bersikap tidak percaya diri dan enggan untuk berubah karena tidak adanya diskusi yang baik dari orang tua. Anak-anak juga punya gengsi yang kadang membuat mereka enggan diperintah tanpa ada kesempatan membela diri.
Karena itu, sebaiknya orang tua jangan hanya selalu memfokuskan pada hal-hal yang negatif saja. Jika sang anak melakukan hal yang positif beri ia pujian agar ia termotivasi untuk terus berbuat baik. Jika anak melakukan kesalahan, redakan emosi Anda lalu bicaralah baik-baik dengan anak. Dengarkan sudut pandangnya dan beri masukan agar ia tidak mengulangi hal yang sama.
6. Menyerahkan pada sekolah dan teknologi
Sekolah dan teknologi seperti internet serta televisi memang bisa membantu Anda dalam memberi akses informasi dan pengetahuan pada anak. Tapi jangan serahkan sepenuhnya keingintahuan anak Anda pada sekolah dan internet, karena hal yang terpenting adalah peran Anda sebagai orang tua yang bisa memberi pengetahuan yang baik pada anak. Hal-hal yang perlu mereka ketahui tentang obat terlarang, teman yang kurang baik, perilaku negatif, seks, dan permasalahan lainnya sebaiknya diketahui anak lewat orang tua.
Orang tua bisa berdiskusi dengan anak tentang hal-hal tersebut termasuk mengetahui tentang lingkungan pergaulan sang anak. Anak-anak yang sering berdiskusi dengan orang tua tentang hal-hal buruk bisa menurunkan risiko mereka terlibat dalam hal-hal tersebut. Jangan menjadi sosok yang menakutkan bagi anak. Jika ia merasa tidak bisa berbicara dengan Anda, maka ia akan mencari tahu ke sumber lainnya yang dianggap bisa memberi solusi bagi anak. Tentu Anda tak mau hal itu terjadi bukan? Maka kita juga harus bisa menjadi orang tua sekaligus teman mereka, agar mereka lebih percaya diri dalam mengungkapkan apa yang menjadi persoalan si anak
4 Tips & Trik Mendisiplinkan Anak
4 Tips & trik mendisiplinkan anak. MENCIPTAKAN figur Moms or Dads yang ditakuti untuk anak memang tak asing lagi, banyak orang tua yang mengajarkan kedisiplinan pada anak dengan cara yang keras agar anak menjadi takut dan penurut. Dan kenyataannya cara ini cukup ampuh. Namun, mengingat dampak yang akan dialami anak nanti, sebaiknya jangan menciptakan hal-hal yang dapat menakuti atau bersifat mengancam. Sebetulnya masih banyak cara yang tepat untuk mendisiplinkan anak, tanpa figur orang tua yang ditakuti, anak juga bisa disiplin, salah satunya adalah dengan mengambil langkah seperti 4 tips & trik mendisiplinkan anak
1. Ajarkan konsekuensi
Berikan pengertian kepada anak, melakukan atau tidak melakukan sesuatu tetap ada konsekuensinya – negatif atau positif. Misalnya dengan bujukan seperti ini “Jika Adik makannya habis, nanti Mama temani main boneka. Tapi jika tidak habis, Adik main boneka sendiri.” Dengan begitu, anak mulai belajar mengikuti peraturan tanpa adanya perasaan takut terhadap ancaman atau figur tertentu. Memang tak semudah itu membuat anak menjadi nurut dengan bujukan Anda, namun jika dengan cara yang tepat pasti anak akan respons.
2.Konsisten
Apa yang orang ibu ucapkan harus sesuai dengan yang ibu lakukan. Contoh, karena si kecil tidak mau membersekan mainannya, Ibu menghukumnya dengan tidak mengizinkan si kecil nonton film kartun favoritnya selama 10 menit.
Jangan merasa iba lantas luluh dengan tangisan atau rengekan si kecil. Bisa-bisa dia berpikir bahwa Ibu marah hanya sebentar. Rencana mendisiplinkan anak pun gagal. Jangan lupa jelaskan kepada si kecil, mengapa dia dihukum.
3.Reward and Punishment
Jangan irit memberi reward (penghargaan) saat anak menuruti permintaan anda. Tidak harus berupa barang, bisa juga dengan pujian, atau hal-hal yang disukai anak, misalnya bermain, menonton film kesukaan pun bisa diberikan.
Sedangkan punishment (hukuman) bisa berupa ‘mencabut’ sesuatu yang membuatnya senang (memberikan efek jera), sehingga anak tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
4.Orangtua harus kompak
Jangan sampai yang satu bertindak sebagai ‘satpam’ (memberi aturan dan teguran) sedangkan yang satu bertindak sebagai ‘pelindung’ (selalu membela anak). Misal, Dads meminta anak belajar tapi Moms membela, maka anak akan berlindung kepada Moms dan melawan Dads, atau sebaliknya. Jadi kekompakan orang tua dalam menidik anak sangat diperlukan. Bila ada perbedaan pendapat antara Moms and Dads sebaiknya bicarakan secara pribadi, jangan di depan anak.
Remaja Senang Buka Internet Diprediksi Rawan Ngeseks
Apakah anak remaja Anda pinter internet? Carilah tanda-tanda gejala multiple risk behaviors (MRB). Studi baru menyatakan bahwa remaja yang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk online sangat rentan minum-minuman, mengonsumi obat terlarang, dan berhubungan seks tanpa kondom. Nah ini adalah tugas orang tua untuk mengawasi anak remaja Anda jika anak remaja Anda senang buka internet dalam dan menghabiskan waktunya untuk membuka internet, maka perlu diwaspadai, karena menurut penelitian bila remaja senang buka internet diprediksi rawan ngeseks dan perilaku buruk lainya.
Para peneliti di Queen University di Kanada telah menemukan bahwa remaja yang terpaku di layar komputer, sebanyak 50 persen cenderung mengalami risiko perilaku dibandingkan rekan-rekan mereka. Padahal penggunaan komputer oleh remaja telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini.
Studi ini menemukan, sering menggunakan komputer dikaitkan dengan sekitar 50 persen peningkatan keterlibatan dengan sekelompok MRB, termasuk merokok, mabuk-mabukan, tidak menggunakan sabuk pengaman, ganja dan penggunaan narkoba, dan hubungan seks yang tidak aman, Maka ini sangat riskan buat perkembangan remaja.
“Penelitian ini didasarkan pada teori kognitif sosial, yang menunjukkan bahwa melihat perilaku orang merupakan sebuah cara untuk belajar perilaku,” kata Valerie Carson dikutip Daily Mail.
“Saat remaja terpaku ke layar monitor, lebih dari 4,5 jam setiap hari, mereka terus-menerus melihat gambaran perilaku yang berpotensi ditiru mereka,” ujarnya.
Carson, seorang kandidat doktor di School of Kinesiology dan Ilmu Kesehatan, Queen University, menemukan hubungan yang kuat antara komputer dan penggunaan internet serta keterlibatan anak-anak remaja dalam risiko perilaku.
Selain itu, sering menonton televisi juga disalahkan atas lonjakan dalam hubungan seks tanpa kondom. Para peneliti percaya bahwa banyak iklan provokatif yang sebelumnya ditayangkan di televisi sekarang disalurkan di internet belum lagi web yang menyediakan situs yang berbau porno. Itulah sebabnya mereka kurang diperiksa silang oleh orangtua dan wali.
Menurut Carson, televisi dan video game memiliki aturan soal sensor. Tetapi di internet aturan sensor kurang ditetapkan. “Orangtua dapat menggunakan program yang mengontrol akses ke Internet, tetapi remaja di kelompok usia ini cukup cerdas akan teknologi dan Internet”. “Ada kemungkinan jenis kontrol dengan memblokir situs web yang tidak diinginkan tidak efektif,” jelasnya.
Peneliti menyarankan bahwa penelitian masa depan harus fokus pada konten khusus untuk remaja konten yang sering online sehingga pedoman waktu online bagi remaja dapat dilaksanakan.
Tips Cara Mendidik Dan Mengatasi Anak Nakal
Tips Cara mendidik dan mengatasi anak nakal. Jika membahas soal anak memang gampang-gamapng susah, terutama bagi anak yang nakal repotnya minta ampun. Anak yang nakal dan susah diatur mungkin ada kaitannya dengan latar belakang keluarga itu sendiri. Namun para orang tua yang memiliki anak yang nakal tidak usah bingung bagaimana cara mendidik dan mengatasi anak tersebut, disini saya akan memberikan tips cara mendidik dan mengatasi anak nakal mudah-mudahan tips yang saya berikan ini bisa menjadi solusi untuk anda dalam mendidik dan mengatasi anak anda.
Berikut ada beberapa cara mendidik dan mengatasi masalah tersebut:
* Didekati si anak ajak komunikasi sebagai teman
* Diberi kesempatan untuk bercerita tentang hal apa saja yang dia temui
* Diajarai sifat dan sikap tanggung jawab
Untuk membiasakan anak bertanggung jawab haruslah dimulai sejak dini, tanpa dibiasakan sejak kecil tidak mungkin anak mempunyai rasa tanggung jawab.
* Biasakan anak mengambil dan mengembalikan maiananya sendiri sebelum dan sesudah bermain
* Biaskan anak untuk melakukan tugas-tugas ringan sejak kecil
* Bisakan anak untuk menjaga kebersihan
* Bila nakal tegurlah dan diberi pengarahan
* Bila melakukan kesalahan dengan orang lain biasakan anak untuk minta maaf agar dia mengeri dan menyadari kesalahannya
* Biasakan anak untuk mengucapkan terimakasih bila ditolong atau diberi sesuatu oleh orang lain.
Di atas tadi merupakan cara mendidik anak, mendidik dan mengatasi anak adalah tanggung jawab kita para orang tua untuk itu jika anda merasa kesulitan mengatasi anak yang nakal segeralah cari solusi agar anda tidak salah dalam mendidik.
Tips Akur Dengan Mertua
Tips Akur Dengan Mertua. Nah ini yang kerap jadi masalah dalam rumah tangga, yaitu hubungan antar mertua dan menantu, mungkin anda sering mendengar cerita-cerita tak menyenangkan soal hubungan tidak akur suami atau istri dengan mertua. Tak hanya persoalan dengan mertua, kadang saudara ipar juga ikut campur memperkeruh suasana. Jadi agar anda bisa terhindar dari masalah hubungan dari pihak suami atau istri yang tidak mrngenakan semacam itu yang akhirnya membuat anda stress, maka saya disini akan memberikan tips yang mungkin bisa bermanfaat untuk hubungan keluarga khususnya dengan mertua bagaimana caranya agar anda bisa akur dengan mertua. Berikut tips Akur Dengan Mertua yang bisa anda simak dan pelajari.
Bekerja bersama
Memiliki hubungan yang nyaman dengan mertua bukan melulu tugas Anda, tapi pasangan juga harus terlibat di dalamnya dan menjadi penengah yang adil disaat masalh itu terjadi. Anda harus bekerja bersama, karena tidak adil menempatkan pasangan dalam situasi di mana dia harus memilih antara Anda atau keluarganya.
Buat batas
Kunci setiap hubungan sehat adalah pengaturan batas. Dengan mertua, Anda perlu mengatur batas, misalnya dalam hal berurusan dengan anak-anak, uang, kebiasaan, dan sebagainya. Anda tidak perlu memasang wajah tegang saat berhadapan dengan mereka membicarakan topik ini maka usahakan untuk tenang menghadapi masalah keluarga. Sebuah diskusi tenang akan jauh lebih solutif.
Komunikasikan
Komunikasi sangat penting, apalagi secara langsung. Artinya, jangan sampaikan masalah Anda dengan mertua atau saudara ipar kepada pasangan. Lebih baik, katakan sendiri, tatap muka. Karena, sangat mudah terjadi kesalahpahaman ketika Anda ingin menyelesaikan masalah lewat suara orang kedua, bukannya masalh selesai justru malah tambah memperpanjang masalah karena salah dengan penyampaian dari orang ketiga tersebut.
Kenali siapa Anda
Anda tidak perlu menjadikan diri sebagai menantu yang sempurna. Jangan mencoba untuk menjadi seseorang yang Anda pikir bisa menyenangkan mertua. Termasuk pilihan apakah Anda ingin menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier. Toh, pasangan mencintai Anda apa adanya, mertua pasti akan belajar untuk menerimanya juga apa yang menjadi pilihan anaknya tersebut, bila rumah tangga anda berjalan baik waktu juga menentukan dan mertua menerima apa adanya juga.
Membuat kompromi
Kompromi adalah bagian penting dari hubungan apapun. Kadang-kadang Anda harus setuju untuk tidak setuju. Kadang-kadang Anda harus melakukan hal-hal yang akan membuat pasangan dan mertua bahagia. Begitu pun sebaliknya. Kompromi bukan hal yang buruk, tetapi tidak berarti harus selalu berkorban.
Tetap tenang
Kadang-kadang, Anda hanya perlu membiarkan diri berpikir dan bertindak tenang. Sangat penting untuk bersikap dewasa dan hormat ketika berhadapan dengan mertua. Anda pun bisa tumbuh makin dewasa saat bersinggungan dengan isu-isu semacam ini.
Punya selera humor
Seperti halnya pasangan, mertua Anda juga butuh waktu lama untuk mengenal kepribadian Anda. Sikapi kecanggungan atau sikap keras kepalanya dengan sedikit sentuhan humor. Pasti lebih ringan dan menyenangkan, dengan begitu mertua juga merasa terhibur dengan humoris anda.
